SUMATERA SELATAN — Commonwealth Fusion Systems (CFS) tengah bersiap menuju pasar modal. Startup fusi nuklir asal Amerika Serikat ini disebut-sebut akan melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) dalam dua hingga tiga tahun mendatang, menurut sumber industri yang dihimpun TechCrunch.
Keyakinan tersebut muncul setelah CFS merekrut Lorence Kim sebagai Chief Financial Officer (CFO) pekan ini. Kim bukanlah sosok sembarangan. Sebelumnya, ia menjabat CFO Moderna, perusahaan bioteknologi yang sukses melantai di bursa pada Desember 2018 — hanya empat setengah tahun setelah ia bergabung.
Keputusan Kim bergabung dengan CFS mungkin terlihat tidak biasa bagi industri energi. Namun, Kim sendiri melihat kesamaan besar antara fusi nuklir dan terapi mRNA yang dulu ia tangani. "Fusi hari ini seperti mRNA satu dekade lalu: secara ilmiah nyata, secara komersial belum terbukti, dan lebih dekat dari yang diperkirakan banyak orang," tulis Kim di LinkedIn.
Christine Dunn, kepala komunikasi eksternal CFS, mengatakan bahwa Kim membawa pengalaman unik dalam menghadirkan produk inovatif yang berada di persimpangan sains mendalam, urgensi geopolitik, dan kebutuhan akan skala besar. Namun, Dunn menegaskan bahwa kedatangan Kim belum tentu berarti persiapan IPO sudah dimulai.
Meski Moderna butuh 4,5 tahun untuk IPO setelah Kim bergabung, beberapa faktor membuat CFS diperkirakan bisa lebih cepat. Pertama, soal regulasi. Produk biotek seperti vaksin harus melalui uji klinis panjang dan mahal karena menyangkut nyawa manusia. Sebaliknya, reaktor fusi lebih aman — jika terjadi kesalahan, reaktor hanya akan mati (fizzle out), bukan meledak seperti reaktor fisi. Badan regulator federal AS pun telah memberikan pedoman khusus yang terpisah dari industri fisi, memberi CFS kendali lebih besar atas jadwalnya sendiri.
Kedua, progres teknis CFS tergolong stabil. Reaktor demonstrasi bernama Sparc ditargetkan beroperasi tahun ini, setelah sempat dijadwalkan pada 2025. Perusahaan berharap Sparc mencapai scientific breakeven tahun depan — yaitu saat reaksi fusi menghasilkan lebih banyak energi daripada energi yang dibutuhkan untuk memulainya. Sejauh ini, hanya satu percobaan di dunia yang berhasil mencapai titik impas ilmiah tersebut.
CFS juga telah memulai pembangunan reaktor skala komersial bernama Arc. Lokasinya sudah ditentukan di Chesterfield County, Virginia, dan proses perizinan sudah dimulai. Perusahaan menargetkan Arc beroperasi pada awal 2030-an.
Jika IPO terjadi dalam beberapa tahun ke depan, CFS masih akan menghadapi pengeluaran besar selama bertahun-tahun. Dari sisi ini, merekrut Kim adalah langkah cerdas. Ia berpengalaman mengelola keuangan Moderna saat masih merugi — sebelum pandemi COVID-19 membawa keuntungan tak terduga.
Lonjakan permintaan listrik dari pusat data AI saat ini menjadi peluang besar bagi industri fusi. Salah satu pesaing CFS, General Fusion, sudah go public melalui merger SPAC bulan ini. TAE Technologies juga akan melantai dengan cara serupa melalui merger dengan Trump Media and Technology Group.
CFS sendiri sudah mengamankan pembeli untuk separuh output pembangkit listrik pertamanya: Google. Namun, jendela IPO tidak akan terbuka selamanya. "CFS tahu ini. Mereka tidak akan membiarkan peluang ini berlalu begitu saja," tulis TechCrunch dalam laporannya.