SUMATERA SELATAN — Kesepakatan ini ditandatangani antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dengan Prime Natuna EP, anak usaha Prime Group. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari hasil lelang Wilayah Kerja (WK) migas reguler yang disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 19 Mei 2026.
"PSC WK Eksplorasi Arwana III telah selesai dilakukan oleh SKK Migas dan KKKS Prima Natuna Eksploitasi & Produksi, tanggal 10 Agustus 2026, berdasarkan hasil lelang WK Regular yang disetujui oleh Menteri ESDM tanggal 19 Mei 2026," kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam keterangan resminya, Jumat (14/8).
Blok Arwana III terletak di Laut Natuna yang berdekatan dengan perbatasan Vietnam dan Malaysia. Posisi ini dinilai strategis karena berada di kawasan yang memiliki potensi cadangan hidrokarbon signifikan, namun juga menuntut teknologi eksplorasi yang mumpuni.
Dalam kontrak tersebut, Prime Natuna EP memiliki komitmen pasti sebesar US$7,7 juta untuk kegiatan eksplorasi awal. Rinciannya mencakup studi geology and geophysics (G&G) serta akuisisi data seismik sepanjang 300 kilometer. Selain itu, perusahaan juga membayar signature bonus US$200.000, komitmen kerja US$200.000, dan Production Bonus (PB) US$1,5 juta.
Djoko menegaskan bahwa percepatan penandatanganan kontrak menjadi prioritas SKK Migas. Targetnya, PSC untuk WK hasil lelang berikutnya bisa ditandatangani maksimal satu minggu setelah pengumuman pemenang.
"Kami berharap ke depan dalam waktu satu minggu setelah pengumuman pemenang lelang, PSC dapat ditandatangani, mengingat kontrak PSC sudah tersedia format bakunya dan tinggal memasukkan angka-angka dalam dokumen lelangnya," ujarnya.
Menurut Djoko, kecepatan proses ini berdampak langsung pada iklim investasi sektor hulu migas nasional. "Hal ini penting untuk mempercepat investasi, ketersediaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, target peningkatan lifting dan menjaga keekonomian WK itu sendiri," jelasnya.
Percepatan ini sejalan dengan arahan Menteri ESDM yang kerap menekankan pentingnya kecepatan dalam pembangunan. "Pak Menteri sering berpesan bahwa ke depan bangsa yang maju adalah bangsa yang cepat dalam segala hal," kata Djoko.
Dengan ditandatanganinya kontrak ini, tahap awal kegiatan akan difokuskan pada survei geologi dan seismik untuk mendapatkan gambaran potensi hidrokarbon di bawah permukaan laut. Hasil survei ini akan menentukan apakah blok tersebut layak dilanjutkan ke tahap pengeboran eksplorasi.
"Demikian, mohon doa hasil seismiknya nanti bagus sehingga dapat dilanjutkan dengan ngebor eksplorasi," ujar Djoko.
Blok Arwana III menjadi tambahan portofolio bagi Prime Group di sektor hulu migas Indonesia. Keberhasilan eksplorasi di kawasan Natuna akan memperkuat posisi Indonesia dalam memenuhi target lifting migas nasional di tengah menurunnya produksi dari lapangan-lapangan tua.