PALEMBANG — Aqilla Naira Ayuna tidak hanya sibuk memoles diri untuk ajang nasional. Di usianya yang masih belasan, siswi SMP Muhammadiyah 4 Palembang ini sudah merintis dua advokasi sosial: LIMAS dan Bank Sampah Naira (BSN). Keduanya lahir dari keresahannya terhadap anak-anak kurang beruntung yang kesulitan melanjutkan pendidikan.
Gerakan LIMAS berfokus pada peningkatan literasi dan kepedulian sosial. Sementara BSN mengolah limbah plastik menjadi barang bernilai ekonomi. Hasil penjualan dari bank sampah itu, kata Aqilla, dialokasikan untuk mendukung kegiatan pendidikan anak-anak yang membutuhkan.
“Berawal dari keprihatinan terhadap anak-anak yang kurang beruntung dan tidak dapat melanjutkan pendidikan,” demikian penjelasan yang diterima redaksi, menggambarkan motivasi awal remaja yang akrab disapa Aqilla ini.
Anak pertama dari pasangan Yusuf Supriyadi dan Dona Anggrayani ini menganggap ajang Puteri Pelajar Indonesia 2026 lebih dari sekadar kompetisi. Ia memandangnya sebagai wadah untuk belajar, bertumbuh, dan memperluas dampak sosial positif bagi masyarakat.
Menjelang karantina dan grand final, Aqilla menjalani persiapan intensif. Ia memperdalam wawasan kebangsaan, mengasah bakat, memperkuat personal branding, serta menjaga kesehatan fisik dan mental. Dukungan penuh datang dari keluarga, sekolah, dan masyarakat Sumatera Selatan.
Dengan semangat dan kerja keras, Aqilla berharap bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda di Sumatera Selatan untuk berani bermimpi dan membangun mental positif sejak usia dini. Langkahnya di ajang Puteri Pelajar Indonesia 2026 akan menjadi panggung untuk menyuarakan pentingnya pendidikan dan kepedulian sosial.