Harga Pertamax Diprediksi Turun di Awal Juli 2025, Pengamat Sebut Harga Minyak Dunia Kini di Level 80 Dolar AS

Penulis: Ahmad Syukri  •  Selasa, 23 Juni 2026 | 16:30:31 WIB
Harga Pertamax diprediksi turun di awal Juli 2025 seiring melandainya harga minyak dunia.

JAKARTA — Masyarakat pengguna Pertamax bisa bernapas lega di awal Juli ini. Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan harga BBM nonsubsidi tersebut akan turun menyusul melandainya harga minyak mentah dunia.

“Mestinya, awal Juli ini pertamax akan diturunkan harganya,” ujar Fahmy Radhi ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Harga Minyak Dunia Turun dari Puncak Ketegangan Timur Tengah

Fahmy menjelaskan, harga minyak dunia saat ini berada di kisaran 80 dolar AS per barel. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan posisi puncak ketika ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas, yang sempat menembus level 100 dolar AS per barel.

Pada masa konflik tersebut, Iran menutup Selat Hormuz sehingga memicu kelangkaan pasokan minyak global. Setelah ketegangan mereda dan Selat Hormuz kembali dibuka, kelangkaan mulai teratasi dan harga minyak berangsur turun.

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Pertamax Secara Berkala

Menurut Fahmy, proses perundingan antara Iran dan AS masih dinamis dan belum menjamin perdamaian permanen. Namun, untuk konteks Indonesia, ia menegaskan bahwa evaluasi harga harus tetap dilakukan.

“Jadi, masih fluktuasi entah sampai kapan. Tetapi, khusus untuk Indonesia, kalau harga pertamax di atas harga pasar ketika dievaluasi, maka pemerintah harus menurunkannya,” kata Fahmy.

Menteri Keuangan: Stabilitas Rupiah Bisa Ikut Membaik

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan, potensi penurunan harga Pertamax juga didukung oleh harapan perdamaian antara AS dan Iran. Menurutnya, bila perdamaian terwujud, stabilitas nilai tukar rupiah bisa membaik dan biaya dana atau cost of fund menjadi lebih kompetitif.

“Perekonomian global mendapat harapan dari terbukanya peluang perdamaian antara AS dan Iran,” ujar Purbaya.

Kementerian ESDM: Optimistis Tapi Tetap Antisipatif

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemerintah tetap mengamankan alternatif sumber energi di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menilai hubungan Iran dan AS masih dinamis meski ada sinyal positif.

“Optimistis harus, namun langkah antisipatif juga harus dilakukan,” ujar Anggia.

Pemerintah pun diminta terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan menyesuaikan harga BBM nonsubsidi agar tetap sesuai dengan kondisi pasar.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top