PALEMBANG — Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengungkapkan, angka tersebut merupakan akumulasi kasus suspek yang tercatat sejak Minggu ke-1 hingga Minggu ke-23 tahun 2026. Penyebaran virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71 ini tergolong cepat di wilayah dengan iklim tropis seperti Sumsel.
Selain Palembang dan PALI, sebaran kasus cukup tinggi terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin dengan 61 kasus, Prabumulih 58 kasus, serta Lahat dan Muara Enim yang masing-masing mencatat 54 kasus. Lubuk Linggau menyusul dengan 49 kasus, OKU 19 kasus, dan Musi Rawas 17 kasus.
Di sisi lain, Kota Pagar Alam mencatat sembilan kasus, Banyuasin delapan kasus, dan OKU Selatan tujuh kasus. Empat Lawang, OKU Timur, dan Muratara masing-masing tiga kasus. Kabupaten OKI menjadi wilayah paling rendah dengan hanya satu kasus suspek.
Ira menjelaskan, HFMD bersifat musiman. Peningkatan kasus terjadi saat peralihan musim karena kondisi lingkungan mendukung penyebaran virus. “Pada musim kemarau, anak-anak lebih banyak beraktivitas di ruang tertutup berpendingin udara atau area bermain dalam ruangan yang berpotensi meningkatkan risiko penularan,” katanya.
Beberapa faktor yang membuat Sumsel rentan terhadap HFMD antara lain iklim tropis yang panas dan lembap, tingginya interaksi anak usia sekolah, serta penggunaan fasilitas umum bersama seperti playground dan tempat les. Kebiasaan anak usia dini yang belum mandiri dalam menjaga kebersihan diri juga mempercepat penularan.
Seseorang dikategorikan sebagai suspek HFMD jika mengalami demam akut lebih dari 38,5 derajat Celsius atau memiliki riwayat demam kurang dari lima hari. Gejala ini disertai ruam berupa bintil atau lenting kemerahan pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, lutut, atau siku, dengan atau tanpa sariawan di rongga mulut.
Penyakit ini berkembang dalam tiga fase. Fase awal ditandai demam ringan, penurunan nafsu makan, rewel, dan nyeri tenggorokan. Selanjutnya muncul sariawan pada lidah, gusi, atau bagian dalam pipi. “Memasuki hari ketiga hingga kelima, timbul ruam berupa bintik merah yang berkembang menjadi bintil berisi cairan,” jelas Ira.
Dinkes Sumsel mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala berat. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi lemas hebat, kejang, sesak napas, atau tangan dan kaki terasa dingin. Kondisi tersebut dapat mengarah pada komplikasi serius berupa ensefalitis atau radang otak.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta membiasakan cuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan anak, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Pastikan anak mendapatkan asupan gizi seimbang dan istirahat yang cukup.
Dinkes Sumsel terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat guna menekan potensi penyebaran HFMD, khususnya pada kelompok anak usia dini yang menjadi paling rentan terinfeksi.