Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolda Sumsel Pimpin Pencucian Pataka Atidhira Wira Bhakti, Simbol Pengabdian Personel

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 23:08:49 WIB
Kapolda Sumsel memimpin prosesi pencucian Pataka Atidhira Wira Bhakti jelang Hari Bhayangkara ke-80.

PALEMBANG — Ratusan personel Polda Sumatera Selatan mengikuti prosesi pencucian Pataka Atidhira Wira Bhakti di Aula Lantai 7 Gedung Presisi Mapolda Sumsel, Kamis (25/6/2026). Upacara yang dipimpin langsung Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum., ini menjadi rangkaian penting menjelang puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026.

Pataka yang disahkan melalui Surat Keputusan Kapolri Nomor Pol. SKEP/1123/IX/1996 tanggal 20 September 1996 itu bukan sekadar lambang organisasi. Kapolda menegaskan, pataka tersebut merupakan representasi nilai-nilai luhur yang harus diwujudkan dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian.

Makna di Balik Pencucian Pataka Atidhira Wira Bhakti

Prosesi dimulai dengan masuknya Pataka Polda Sumsel “Atidhira Wira Bhakti” ke ruang upacara yang disambut penghormatan seluruh peserta. Kapolda Sumsel kemudian melakukan pencucian pataka menggunakan air bunga dan daun pandan, diakhiri dengan penyemprotan minyak wangi.

Rangkaian simbolik ini bermakna penyucian nilai, penghormatan terhadap sejarah perjuangan institusi, serta pembaruan tekad pengabdian kepada masyarakat. “Prosesi ini menjadi momentum untuk memperbarui komitmen pengabdian seluruh personel,” ujar Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho.

Sasanti Atidhira Wira Bhakti sendiri mengandung makna keteguhan hati, jiwa keperwiraan, serta pengabdian yang dilaksanakan penuh tanggung jawab demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

Dua Kali Raih Nugraha Sakanti, Bukti Dedikasi Polda Sumsel

Nilai historis Pataka Atidhira Wira Bhakti semakin kuat karena Polda Sumsel merupakan salah satu satuan kewilayahan Polri yang dua kali menerima Tanda Kehormatan Nugraha Sakanti dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan pertama diraih pada tahun 1973, dan kembali diperoleh pada tahun 2025.

Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan keberhasilan Polda Sumsel dalam menjalankan tugas kepolisian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab moral bagi seluruh personel.

Pengingat Integritas dan Loyalitas Personel

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa tradisi pemuliaan nilai Tribrata menjadi pengingat bagi seluruh personel. “Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap insan Bhayangkara memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan institusi serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Melalui upacara ini, Polda Sumatera Selatan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Polri yang Presisi, profesional, humanis, dan semakin dipercaya masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta penegakan hukum di Sumsel.

Apa yang Dimaksud dengan Pataka Atidhira Wira Bhakti?

Pataka Atidhira Wira Bhakti adalah simbol kehormatan sekaligus identitas Polda Sumsel. Kata “Atidhira” berarti keteguhan hati, “Wira” berarti jiwa keperwiraan, dan “Bhakti” berarti pengabdian yang dilaksanakan penuh tanggung jawab.

Kapan Tradisi Pencucian Pataka Ini Dilaksanakan?

Tradisi pencucian pataka digelar setiap tahun menjelang puncak peringatan Hari Bhayangkara. Tahun ini, prosesi berlangsung pada Kamis (25/6/2026) di Mapolda Sumsel, Palembang.

Apa Dampak Tradisi Ini bagi Pelayanan Polri ke Masyarakat?

Kapolda Sumsel menekankan bahwa nilai-nilai Tribrata harus hidup dalam setiap tindakan anggota Polri. Dengan pembaruan komitmen ini, kehadiran Polri diharapkan benar-benar memberikan rasa aman, keadilan, dan pelayanan terbaik bagi masyarakat Sumsel.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: mediapolri.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top