SUMATERA SELATAN — Pergerakan rupiah pada Jumat (26/6) pagi ini memperpanjang tren negatif di tengah dominasi dolar AS di pasar Asia. Pelemahan ini menjadi yang terdalam kedua setelah won Korea Selatan yang ambles 0,38 persen, sementara mata uang Asia lainnya seperti ringgit Malaysia justru berhasil menguat 0,31 persen. Di kelompok mata uang utama negara maju, hampir seluruhnya melemah, dengan dolar Australia menjadi yang paling tertekan turun 0,29 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini datang dari faktor eksternal yang kuat. "Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis pekan lalu menjadi pemicu utama. Inflasi inti yang terus naik memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan. Sikap hawkish sejumlah pejabat The Fed pekan ini semakin mengonfirmasi arah kebijakan tersebut, membuat dolar AS kembali perkasa di hadapan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dalam perdagangan pagi ini, hanya dolar Kanada yang mampu menguat tipis 0,03 persen terhadap greenback di antara mata uang negara maju. Sementara itu, euro terdepresiasi 0,10 persen, franc Swiss turun 0,09 persen, dan poundsterling Inggris melemah 0,03 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan dolar AS bersifat menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada pasar Asia.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar. "Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS," imbuhnya. Level Rp18.000 menjadi resistance psikologis yang patut diwaspadai, mengingat sentimen pasar masih didominasi oleh penguatan dolar.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut memberikan tekanan langsung pada emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar atau yang mengimpor bahan baku. Sektor properti, ritel, dan manufaktur yang bergantung pada komponen impor menjadi yang paling rentan terhadap fluktuasi kurs saat ini. Di sisi lain, emiten komoditas dan eksportir justru diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Bagi investor pasar modal, pergerakan rupiah menjadi indikator penting yang kerap berkorelasi dengan aliran modal asing. Pelemahan yang berkelanjutan biasanya mendorong investor asing untuk melakukan aksi jual (net sell) di pasar saham dan obligasi, yang pada gilirannya menekan IHSG. Investor disarankan untuk mencermati data tenaga kerja AS (Non-Farm Payroll) yang akan dirilis pekan depan sebagai katalis berikutnya bagi pergerakan dolar dan rupiah.
Investasi mengandung risiko.