BATURAJA — BPBD Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tidak ingin kecolongan. Setelah tiga kali karhutla terjadi dalam sepekan terakhir, lembaga itu memutuskan membentuk posko siaga darurat kabut asap di 13 kecamatan. Langkah ini sekaligus mengantisipasi meluasnya kebakaran yang kerap dipicu oleh praktik pembukaan lahan secara tradisional.
Manajer Pusdalops BPBD OKU Gunalfi mengatakan, setiap posko akan diisi oleh personel gabungan dari BPBD dan masyarakat relawan api. Tugas utama mereka adalah memantau titik panas atau hotspot yang berpotensi memicu karhutla.
"Mengingat selama periode Juni 2026 ini saja sudah terjadi tiga kali peristiwa karhutla sehingga harus dilakukan upaya antisipasi sedini mungkin," tegas Gunalfi di Baturaja, Senin.
Peristiwa terakhir terjadi pada Jumat (12/6) di Desa Tihang, Kecamatan Lengkiti. Lahan seluas sekitar satu hektare ludes terbakar. Api berhasil dipadamkan setelah petugas dan warga bekerja selama beberapa jam.
Selain membentuk posko, BPBD OKU mengintensifkan patroli rutin ke daerah-daerah yang dinilai rawan. Beberapa wilayah yang masuk kategori rawan antara lain Kecamatan Lengkiti, Sosoh Buah Rayap, dan Baturaja Timur.
Petugas di lapangan juga gencar melakukan sosialisasi larangan membakar hutan dan lahan. Gunalfi menekankan bahwa edukasi ini penting agar masyarakat tidak lagi membuka lahan pertanian dengan cara dibakar.
"Personel kami di lapangan mengedukasi masyarakat tentang larangan membuka lahan pertanian dengan cara dibakar karena berpotensi menimbulkan karhutla," ujar dia.
Sebagian besar wilayah OKU merupakan lahan gambut dan semak belukar yang mudah terbakar saat kemarau. Kebiasaan membakar lahan untuk pertanian masih menjadi tantangan utama. BPBD berharap pembentukan posko dan patroli rutin bisa menekan jumlah kejadian di musim kemarau tahun ini.
Posko siaga darurat kabut asap di 13 kecamatan akan beroperasi selama 24 jam. Masyarakat diminta segera melapor jika menemukan titik api atau kepulan asap di sekitar permukiman maupun lahan pertanian.