BATURAJA — Dua varietas buah kebanggaan warga Ogan Komering Ulu (OKU), Durian Tembaga dan Durian Semengok Sakti, terancam punah. Pemkab OKU pun bergerak dengan menyiapkan laboratorium kultur jaringan untuk menyelamatkan plasma nutfah daerah tersebut.
Bupati OKU Teddy Meilwansyah di Baturaja, Senin, menyebut program ini sebagai jawaban atas menurunnya populasi durian dan duku lokal. “Laboratorium seperti inilah nantinya akan disiapkan di Kabupaten OKU untuk mengembangkan tanaman unggul seperti durian dan duku lokal,” katanya.
Gagasan itu lahir setelah Teddy dan jajarannya berkunjung ke Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta. Dalam kunjungan itu, ia menyaksikan langsung proses perbanyakan bibit pisang menggunakan teknik kultur jaringan.
“Metode ini sangat luar biasa di mana satu bagian kecil jaringan tanaman mampu menghasilkan ratusan bibit baru,” jelas Teddy.
Teknologi ini memungkinkan pengembangan bibit dalam jumlah besar dengan kualitas seragam dan waktu produksi lebih singkat ketimbang metode konvensional. Pemkab OKU menilai potensi ini besar untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus melestarikan tanaman unggulan daerah.
Penerapan program direncanakan bertahap mulai tahun ini. Salah satu skema yang disiapkan adalah penanaman pohon hasil kultur jaringan di lingkungan masyarakat, sekolah, kantor pemerintah, hingga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Program ini bisa diawali di satu kecamatan terlebih dahulu. Nantinya setiap rumah berpotensi mendapatkan pohon hasil kultur jaringan. Selain itu, lahan pekarangan sekolah, kantor pemerintah, dan BUMD juga dapat dimanfaatkan,” ujar Teddy.
Menurutnya, warga tak perlu lahan luas. Pekarangan rumah yang tersedia sudah cukup untuk menanam tanaman produktif yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan pangan keluarga.
Pemkab OKU segera membangun laboratorium kultur jaringan sendiri dengan dukungan dan kerja sama dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta. Fasilitas ini nantinya menjadi pusat pengembangan tanaman khas daerah yang keberadaannya mulai langka.
Selain Durian Tembaga dan Durian Semengok Sakti, sejumlah varietas duku asli OKU juga masuk daftar prioritas untuk dikembangkan kembali. “Dengan adanya fasilitas ini, tanaman khas yang mulai berkurang bahkan terancam hilang dapat dikembangkan kembali,” ujar Teddy.
Keberadaan laboratorium itu tidak hanya berfungsi menjaga plasma nutfah daerah, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sektor pertanian melalui pengembangan komoditas unggulan yang memiliki daya saing.