PALEMBANG — Proyek transformasi sistem teknologi informasi (IT) BSI yang melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi telah rampung pada pertengahan Mei 2026. Region CEO BSI Region III Palembang Ari Yusnairy Muslim mengatakan proyek ini mencakup migrasi data, peningkatan sistem core banking dari R10 ke R24, konversi sistem, hingga validasi menyeluruh yang diawasi regulator dan Danantara.
Dengan selesainya transformasi IT ini, BSI Region III Palembang langsung mengarahkan penguatan digital untuk mendukung pengembangan bisnis emas dan haji. Posisi BSI yang memiliki dual licence sebagai bank syariah sekaligus bank emas menjadi modal utama.
"Kami siap mengimplementasikan bisnis digital dan akan menerapkannya di seluruh ekosistem bisnis di Region III Palembang untuk menghadirkan layanan keuangan yang semakin modern, inklusif, dan kompetitif," kata Ari Yusnairy Muslim di Palembang, Senin.
Data terbaru hingga Maret 2026 menunjukkan dampak positif transformasi ini. Tabungan Emas BSI Region III Palembang tumbuh 406,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara jumlah rekening (number of accounts/NOA) meningkat drastis hingga 937 persen.
Adapun Tabungan Haji beserta jumlah rekeningnya masing-masing tumbuh sekitar 18 hingga 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja bisnis secara umum juga mencatatkan pertumbuhan positif. Hingga Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) BSI Region III Palembang tumbuh 23,9 persen secara tahunan. Sementara itu, penyaluran pembiayaan meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BSI Region III Palembang membawahi enam provinsi yang terbagi dalam lima area operasional, yakni Padang, Bengkulu, Jambi, Palembang, dan Lampung. Wilayah ini didukung oleh 16 kantor cabang, 85 kantor cabang pembantu, dan dua Kantor Fungsional Operation (KFO).
Secara nasional, hingga April 2026 BSI membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp2,80 triliun, tumbuh 17,79 persen secara tahunan. Total aset perseroan mencapai Rp452 triliun, dengan dana pihak ketiga sebesar Rp382 triliun dan pembiayaan Rp332 triliun.
Angka-angka ini mencerminkan fundamental perusahaan tetap kuat di tengah proses transformasi digital yang baru saja tuntas.