OGAN KOMERING ILIR — Karakteristik lahan gambut yang kering membuat bara api bertahan lama dan berisiko merambat ke lapisan bawah tanah. Kondisi ini menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan.
Angin kencang yang bertiup pada siang hari turut memperbesar kobaran api dan menyulitkan proses pemadaman. Meski demikian, ketersediaan air di lokasi dinilai masih cukup untuk mendukung operasi darat.
Operasi pemadaman tidak hanya mengandalkan alat berat dan personel darat. Sejak Kamis, satu helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses dari permukaan.
Untuk mempercepat pengendalian, petugas menambah tiga regu di lokasi. Langkah ini dilakukan agar proses pembasahan menyeluruh bisa berjalan optimal dan api segera terkendali.
Kabupaten Ogan Komering Ilir dikenal memiliki kawasan gambut yang luas. Saat musim kemarau, lapisan gambut mengering dan mudah terbakar. Bara api bisa bertahan di bawah permukaan selama berminggu-minggu dan kembali menyala jika tidak dipadamkan tuntas.
Tim gabungan saat ini memfokuskan upaya pada pembatasan pergerakan api agar tidak meluas ke permukiman dan area perkebunan warga. Belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.
Kebakaran lahan gambut menjadi persoalan tahunan di Sumatera Selatan. Pemerintah daerah bersama aparat terus mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pelaku pembakaran lahan bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Petugas masih bersiaga di lokasi hingga api benar-benar padam. Masyarakat diminta melapor jika melihat titik api baru di sekitar wilayah Pedamaran dan sekitarnya.