RA Baitul Hannan Palembang Deklarasikan Kurikulum Berbasis Cinta, Tanamkan Nilai Cinta Tanah Air Sejak Anak Usia Dini

Penulis: Rizal Hamdani  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:25:31 WIB
RA Baitul Hannan Palembang mendeklarasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai madrasah percontohan.

Deklarasi itu menandai langkah awal RA Baitul Hannan sebagai madrasah piloting KBC. Melalui program ini, anak-anak diajak mencintai Allah, Rasul, sesama, lingkungan, hingga tanah air sejak dini, tidak hanya dalam materi pembelajaran tetapi juga pembiasaan sehari-hari.

Kenapa KBC Dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini?

Pengawas Pembina RA Baitul Hannan, Ari Mawarni, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini memegang peran strategis dalam membangun fondasi karakter. Menurutnya, anak tidak cukup diberi pengetahuan, melainkan perlu dibimbing untuk mengenal, merasakan, dan mempraktikkan nilai-nilai cinta secara nyata.

"Anak-anak tidak cukup hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga perlu dibimbing untuk mengenal, merasakan, dan mempraktikkan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya dalam sambutan.

Mawarni yang merupakan alumni PGAN 91 Palembang ini menambahkan bahwa KBC harus hadir dalam keseharian anak, bukan sekadar dokumen kurikulum. "Anak belajar mencintai melalui keteladanan guru, pembiasaan, lingkungan yang aman dan nyaman, serta interaksi yang penuh kasih sayang," jelasnya.

Rangkaian Deklarasi: dari Pembacaan Al-Qur'an hingga Lagu Indonesia Raya

Acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh Ananda El, salah satu peserta didik, di hadapan seluruh tamu undangan. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai wujud penanaman cinta tanah air kepada anak-anak sejak usia dini.

Momen ini menjadi simbol bahwa cinta tidak hanya diucapkan, tetapi juga dipraktikkan dalam suasana khidmat dan penuh semangat kebersamaan.

Kepala RA: KBC Tanpa Dukungan Orang Tua Tidak Akan Berjalan

Kepala RA Baitul Hannan, Ning Ratri, menekankan bahwa implementasi KBC bukan hanya tanggung jawab guru. Komitmen bersama dari orang tua, stakeholder, dan anak didik diperlukan agar nilai-nilai cinta menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Implementasi KBC membutuhkan komitmen bersama. Madrasah, guru, orang tua, stakeholder dan anak-anak harus bergerak bersama agar nilai-nilai cinta benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," ujarnya dalam sambutan.

Penandatanganan Bersama: Tanda Dimulainya Budaya Cinta di Madrasah

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan deklarasi bersama yang dilakukan oleh pengawas pembina, kepala RA, guru dan tenaga kependidikan, stakeholder, perwakilan orang tua, serta seluruh anak-anak RA Baitul Hannan. Keterlibatan seluruh unsur ini mempertegas bahwa pendidikan berbasis cinta merupakan tanggung jawab kolektif.

RA Baitul Hannan berkomitmen menjadikan deklarasi ini sebagai awal gerakan bersama, bukan sekadar seremonial. Nilai-nilai cinta diharapkan tertanam melalui pembiasaan mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai ilmu, diri sendiri, sesama, lingkungan, serta tanah air.

Dengan semangat "Belajar dengan Cinta, Tumbuh dengan Karakter", madrasah ini berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk anak-anak berakhlak, peduli, dan bertanggung jawab sejak usia dini.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: poskita.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top