67 Mahasiswa Unsri Telusuri Jejak Megalitik Pasemah, Riset Tiga Situs di Pagaralam

Penulis: Ahmad Syukri  •  Senin, 02 November 2026 | 10:01:31 WIB
Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri mengamati peninggalan megalitik di Situs Tebing Tinggi, Pagaralam.

PAGARALAM — Rombongan mahasiswa berseragam jaket kuning itu turun dari bus di Dusun Tebing Tinggi, Lubuk Buntak, siang itu. Warga yang sedang duduk di teras rumah menyambut mereka. Suasana dusun di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) mendadak ramai.

Kedatangan mereka bukan kunjungan biasa. Puluhan mahasiswa tersebut merupakan peserta Studi Proyek dan Riset Mahasiswa Semester Ganjil Tahun Akademik 2026 Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsri.

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi tujuh mata kuliah wajib yang memadukan teori perkuliahan dengan pengalaman empiris di lapangan.

Tiga Situs Megalitik Jadi Laboratorium Lapangan

Di Pagaralam, mahasiswa tidak hanya membaca catatan sejarah di ruang kelas. Mereka mengunjungi langsung Situs Tebing Tinggi, Situs Belumai, dan Situs Tegur Wangi.

Di area persawahan Dusun Tebing Tinggi, rombongan berhenti di dekat dua batu peninggalan megalitik yang dilindungi pagar besi berwarna hijau. Di titik inilah pengamatan lapangan dimulai.

Mahasiswa diminta mengamati, mengidentifikasi, mendokumentasikan, serta menganalisis berbagai peninggalan sejarah dan budaya. Metode ini dipakai agar mereka terbiasa bekerja dengan sumber sejarah langsung, bukan sekadar teks.

Mario Andramartik Dihadirkan sebagai Narasumber

Untuk memperkaya wawasan soal arkeologi dan pelestarian warisan budaya, panitia menghadirkan Mario Andramartik. Ia merupakan tokoh penggerak kebudayaan dan pariwisata Sumatera Selatan, sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat.

Peradaban megalitik Pasemah sendiri dikenal sebagai salah satu kekayaan sejarah yang menjadi identitas penting Sumatera Selatan. Situs-situsnya tersebar di sejumlah titik di kaki Gunung Dempo.

Mengapa Pembelajaran Sejarah Perlu Turun ke Lapangan

Kepala Departemen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) sekaligus Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri, Dr. Hudaidah, M.Pd., menilai pembelajaran sejarah tidak cukup dilakukan di dalam kelas.

"Mahasiswa juga perlu mendapatkan pengalaman empiris dengan mengamati secara langsung sumber-sumber sejarah dan peninggalan warisan budaya," kata Hudaidah.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi mahasiswa. Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif.

Keterampilan penelitian juga menjadi sasaran utama. Bekal itu dinilai penting bagi calon pendidik yang akan merancang inovasi pembelajaran sejarah berbasis teknologi.

Hasil Riset Bakal Jadi Media Pembelajaran Digital

Kajian dari tiga situs tersebut tidak berhenti sebagai laporan akademik. Hasilnya akan dikembangkan menjadi materi dan media pembelajaran sejarah berbasis teknologi digital yang kreatif dan inovatif.

Dengan begitu, pembelajaran sejarah di sekolah diharapkan lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman. Peninggalan megalitik Pasemah bisa dikenalkan lewat format yang lebih dekat dengan siswa.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang Pendidikan Berkualitas. Sebanyak 67 mahasiswa terlibat, didampingi empat dosen serta dua tenaga kependidikan dan administrasi.

Bagi generasi muda, pengalaman lapangan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian warisan sejarah dan budaya lokal. Peradaban megalitik Pasemah menjadi pintu masuknya.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: beritapagi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top