PALEMBANG — Musyawarah Provinsi SMSI Sumatera Selatan berlangsung di Jalan Radial, Palembang, dengan tiga agenda tunggal: laporan pertanggungjawaban pengurus lama, perumusan program kerja, dan pemilihan ketua. Jhon Heri yang hampir delapan tahun menjabat ketua wilayah menyampaikan laporan pertanggungjawabannya secara terbuka di hadapan peserta.
Kas Organisasi Nol, Jhon Heri Sebut Bantuan Pihak Ketiga Berupa Sarana
Dalam laporannya, Jhon Heri menyoroti kondisi keuangan organisasi yang menurutnya paling berat untuk dipertahankan. Sejak kepengurusan provinsi dibentuk, kas SMSI Sumsel tercatat selalu kosong.
"Kalau bicara soal laporan pertanggungjawaban, apalagi menyangkut keuangan, saya sebenarnya sangat miris. Sejak berdiri kepengurusan provinsi Sumsel ini, kas keuangan selalu kosong atau nol," ujarnya.
Bantuan pihak ketiga, kata dia, tidak pernah diterima dalam bentuk uang. Dukungan yang masuk berupa sarana kegiatan dan konsumsi.
Musprov Pertama Digelar Berkat Dukungan Pemprov Sumsel hingga PT Bukit Asam
Jhon Heri menyebut musyawarah kali ini bisa terselenggara atas bantuan sejumlah pihak, mulai dari Pemprov Sumsel, PLN, Bank Indonesia, Bank Sumsel Babel, PT Pertamina Patra Niaga, hingga PT Bukit Asam Tbk. Forum ini tercatat sebagai Musprov pertama sejak organisasi wilayah berdiri sembilan tahun lalu.
"Alhamdulillah, berkat perjuangan dan dukungan kawan-kawan sesama pengurus, hari ini kita bisa menggelar Musprov pertama," ujarnya.
Lima Juru Bicara Setujui LPJ, Formatur Sepakat Pilih Jhon Heri
Setelah laporan pertanggungjawaban dibacakan, tanggapan disampaikan pengurus daerah kabupaten/kota melalui lima juru bicara perwakilan. Seluruh daerah menyatakan menyetujui laporan tersebut dan menginginkan tampuk pimpinan SMSI Sumsel tetap diamanahkan kepada Jhon Heri.
Menjelang agenda terakhir, forum membentuk tim formatur berisi lima orang. Kelima formatur sepakat memilih Jhon Heri sebagai ketua untuk periode 2026–2030.
Tiga Agenda Tetap Jadi Tradisi SMSI di Setiap Musyawarah
Ketua Umum SMSI Pusat Dr. Firdaus menjelaskan bahwa dalam tradisi organisasi, setiap musyawarah atau kongres hanya menggelar tiga agenda. Pola itu disebutnya paling sederhana dan demokratis, sekaligus menekan risiko perpecahan saat pelaksanaan.
"Tradisi ini memang agak berbeda dengan organisasi lainnya. Namun inilah yang paling simple dan demokratis, tidak beresiko tinggi terjadinya persoalan dan perpecahan saat pelaksanaannya. Pola ini juga sdh dituangkan dalam AD-ART Organisasi," ujarnya.
Dengan terpilihnya kembali Jhon Heri, kepengurusan SMSI Sumsel periode 2026–2030 akan langsung menyusun program kerja sesuai hasil rumusan Musprov di Palembang.