DPR Minta Operasi Darurat Penyelamatan Satwa Usai Orang Utan Sempurna Mati Akibat Karhutla

Penulis: Ahmad Syukri  •  Sabtu, 05 September 2026 | 07:49:01 WIB
BKSDA Kalimantan Barat bersama yayasan terkait mengevakuasi orang utan bernama Sempurna yang terdampak karhutla untuk mendapat perawatan intensif.

SUMATERA SELATAN — Johan menyebut kematian Sempurna yang sempat dievakuasi dan mendapat perawatan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama yayasan terkait merupakan bukti kegagalan deteksi dini. Ia mendorong Kementerian Kehutanan segera memetakan kantong-kantong habitat yang terdampak serta mengerahkan tim medis dan penyelamat satwa ke lokasi terdampak.

Pemadaman Prioritas dan Ancaman Konflik Satwa-Manusia

Johan meminta operasi pemadaman difokuskan pada kawasan yang berdekatan dengan habitat satwa dilindungi. Menurut dia, satwa yang berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api belum tentu terbebas dari ancaman.

"Satwa yang berhasil keluar dari lokasi kebakaran juga belum tentu selamat. Mereka dapat mengalami gangguan pernapasan, luka bakar, kekurangan pakan dan air, serta terdorong masuk ke kebun dan permukiman. Karena itu, pemerintah harus mencegah munculnya konflik baru antara manusia dan satwa," kata Johan saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).

Investigasi Menyeluruh dan Tuntutan Ganti Rugi Ekologis

Di luar penanganan darurat, Johan mendesak investigasi menyeluruh untuk mengusut sumber api dan rantai kelalaian yang menyebabkan kebakaran meluas hingga masuk ke habitat orang utan. Ia menekankan penegakan hukum tidak boleh berhenti pada aktor lapangan yang menyalakan api.

"Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada siapa yang menyalakan api. Harus diperiksa pula ada atau tidaknya kelalaian dalam menjaga kawasan, menyediakan sarana pemadaman, dan melindungi habitat satwa. Jika ditemukan pelanggaran, pihak yang bertanggung jawab harus menanggung biaya penyelamatan satwa dan pemulihan ekosistem," imbuhnya.

Legislator itu juga meminta pemerintah menyiapkan lokasi evakuasi dan rehabilitasi yang memadai, serta melakukan pendataan terbuka mengenai jumlah satwa yang mati, sakit, dievakuasi, maupun kehilangan habitat akibat karhutla.

Harga Ekologis dari Pencegahan yang Terlambat

Bagi Johan, kasus Sempurna merepresentasikan kegagalan sistemik dalam pengendalian karhutla. Ia menilai luas lahan terbakar dan jumlah titik panas tidak lagi cukup menjadi indikator tunggal kerusakan, tetapi harus diukur dari hilangnya keanekaragaman hayati.

"Sempurna bukan sekadar satu ekor orang utan yang mati. Peristiwa ini menggambarkan betapa mahalnya harga ekologis yang harus dibayar ketika pencegahan karhutla terlambat. Saya mendesak pemerintah mempercepat pemadaman, penyelamatan satwa, investigasi penyebab kebakaran, serta pemulihan habitat secara terpadu. Jangan menunggu lebih banyak satwa menjadi korban," pungkasnya.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top