MUSI BANYUASIN — Tiga warga Desa Pangkalan Bulian, Kecamatan Batang Hari Leko, mengalami luka bakar akibat kebakaran sumur minyak ilegal di perbatasan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Musi Rawas Utara (Muratara). Dua di antaranya menderita luka bakar 90 persen di seluruh tubuh. Peristiwa terjadi pada Rabu (22/7/2026) dan masih dalam penyelidikan polisi.
Dua Korban Alami Luka Bakar 90 Persen
Ketiga korban masing-masing bernama Agung, Adam, dan Tomi. Mereka langsung dilarikan ke RSUD Sekayu untuk mendapatkan penanganan medis. Humas RSUD Sekayu, Andodi, mengungkapkan kondisi dua orang sangat serius.
“Adam dan Tomi mengalami luka bakar sekitar 90 persen di tubuhnya. Sementara Agung mengalami luka bakar sekitar 30 persen di bagian kaki,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Korban Agung Beri Keterangan Berbeda
Meski demikian, Agung mengaku kepada tim medis bahwa luka yang dialaminya berasal dari kebakaran rumah, bukan akibat kebakaran sumur minyak ilegal. Keterangan tersebut berbeda dengan temuan lapangan yang mengarahkan ke lokasi pengeboran liar.
“Agung menyampaikan ke perawat bahwa dia terluka karena rumahnya terbakar. Tapi tim kami masih akan mencari informasi lebih lanjut,” kata Andodi.
Lokasi di Perbatasan, Penyelidikan Ditangani Polres Muratara
Berdasarkan informasi yang dihimpun, lokasi kebakaran berada di wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara yang berbatasan langsung dengan Musi Banyuasin. Api diduga muncul saat aktivitas pengeboran minyak ilegal berlangsung. Penyebab pasti masih diselidiki aparat kepolisian.
Kanit Reskrim Polsek Batang Hari Leko, Iptu Zulfikri, menjelaskan bahwa tempat kejadian perkara (TKP) masuk wilayah hukum Polres Muratara. “Proses penyelidikannya ditangani oleh Polres setempat,” katanya.
Kejadian Berulang di Sumur Ilegal
Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan akibat pengeboran minyak tanpa izin di kawasan perbatasan Muba-Muratara. Dalam beberapa tahun terakhir, ledakan maupun kebakaran di sumur minyak ilegal berulang kali terjadi, menyebabkan korban luka hingga meninggal dunia. Aktivitas tersebut masih terus berlangsung meskipun risiko tinggi bagi keselamatan warga.