PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menginstruksikan jajaran puskesmas di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk beroperasi selama 24 jam penuh. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan pasien gangguan pernapasan akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah.
Instruksi tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Sumsel Herman Deru pada Senin (31/8/2026) di Palembang. Tidak hanya memperpanjang jam layanan, Pemprov Sumsel juga meminta agar biaya pengobatan untuk pasien ISPA yang disebabkan paparan asap digratiskan.
"Bagi daerah yang terdampak karhutla, puskesmas dibuka 24 jam untuk pelayanan ISPA," kata Herman Deru, Senin (31/8/2026).
Pemprov Minta Pengobatan ISPA Tidak Dipungut Biaya
Herman Deru menegaskan bahwa pemerintah kabupaten dan kota harus berkoordinasi untuk memastikan tidak ada warga yang terbebani biaya pengobatan. Hal ini menjadi prioritas mengingat dampak kesehatan dari kabut asap bisa dialami siapa saja, terutama anak-anak dan lansia.
"Masalah kesehatan sudah berkoordinasi dengan kabupaten/kota yang terdampak karhutla agar puskesmasnya buka pelayanan 24 jam untuk layanan ISPA dan diharapkan tidak dipungut biaya kalau terdampak ISPA," ujarnya dalam keterangan resmi.
Jam Masuk Sekolah Dimundurkan untuk Kurangi Paparan Asap
Selain sektor kesehatan, Pemprov Sumsel juga menyesuaikan aktivitas belajar mengajar di tengah kondisi udara yang tidak sehat. Jam masuk sekolah di daerah terdampak diperpanjang atau diundur, khususnya untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap para siswa.
Pihak sekolah juga tengah didorong untuk mewajibkan penggunaan masker bagi seluruh murid dan tenaga pengajar selama berada di lingkungan sekolah.
"Sekolah baru di-extend jam masuknya dan dianjurkan pakai masker," jelas Herman Deru. Kebijakan ini diharapkan menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan siswa.
Investigasi Sebut Mayoritas Karhutla Akibat Ulah Manusia
Herman Deru menyoroti bahwa persoalan karhutla tidak hanya berhenti pada upaya pemadaman api. Berdasarkan hasil investigasi, faktor manusia disebut-sebut menjadi penyebab dominan kebakaran yang terjadi tahun ini.
"Menitikberatkan pada peran manusia di sini. Jadi kalau hasil investigasi penyebab mayoritas ini adalah ulah manusia dan yang terdampak manusia," katanya menegaskan.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Sumatera Selatan untuk berperan aktif dalam pencegahan karhutla. Keterlibatan warga dinilai krusial mulai dari upaya promotif, preventif, hingga membantu proses penanganan ketika kebakaran terjadi di lingkungan masing-masing.
"Kita semua warga Sumsel, masing-masing paling tidak kita ada peran pada posisi promotif, preventif dan penanganan juga," ujarnya.
Pemprov Sumsel berharap penguatan layanan kesehatan, penyesuaian jam sekolah, serta peningkatan kesadaran publik dapat menekan dampak karhutla yang masih terjadi di beberapa titik wilayah Sumatera Selatan.