SUMATERA SELATAN — Angka kematian akibat banjir bandang di kawasan Himalaya terus bertambah. Kepolisian Nepal mencatat lonjakan korban meninggal dari 390 orang pada Kamis (27/8) menjadi 469 orang hari ini, sementara tim penyelamat masih menyisir tumpukan lumpur dan puing-puing untuk menemukan ratusan korban yang belum teridentifikasi.
China belum memperbarui jumlah korban tewas di wilayah Tibet yang sebelumnya dilaporkan mencapai tiga orang. Gabungan data kedua negara menunjukkan skala bencana yang luar biasa dengan total korban hilang mencapai 1.500 jiwa lebih.
Danau Baru di Hulu Mengancam Wilayah Hilir
Kekhawatiran baru muncul setelah bencana yang terjadi pada Rabu (26/8) lalu. Sebuah danau dilaporkan terbentuk di kawasan hulu dan kini kondisinya sudah meluap.
Otoritas Nepal dan China secara bersama-sama mengeluarkan peringatan bahwa luapan danau tersebut berpotensi memicu gelombang banjir baru. Wilayah-wilayah yang berada di bawah danau menjadi prioritas evakuasi karena berisiko terdampak langsung.
Proses Pencarian Korban Masih Berlangsung
Tim gabungan penyelamat dari kedua negara masih bekerja di lokasi bencana. Material lumpur dan puing-puing yang menutupi area pemukiman memperlambat proses pencarian ratusan warga yang dilaporkan hilang.
Operasi kemanusiaan ini melibatkan personel kepolisian, militer, dan relawan sipil. Peralatan berat dikerahkan untuk memindahkan material yang menghalangi akses tim penyelamat ke lokasi terdampak.
Belum ada pernyataan resmi mengenai penyebab pasti banjir bandang tersebut. Namun, kawasan Himalaya dikenal rawan terhadap fenomena glasial dan curah hujan ekstrem yang memicu aliran material secara tiba-tiba.
Dampak Bencana dan Respons Kemanusiaan
Banjir bandang ini menghancurkan sejumlah permukiman di wilayah perbatasan kedua negara. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Pemerintah Nepal dan China telah mengerahkan bantuan logistik, layanan medis darurat, serta kebutuhan pokok bagi para pengungsi. Jalur distribusi bantuan menjadi tantangan utama mengingat kondisi geografis yang sulit dijangkau pascabencana.
Masyarakat di wilayah hilir diminta tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat menyusul potensi banjir susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.