MUBA — Kebutuhan mendesak warga akan infrastruktur penyeberangan yang layak kini terjawab. Jembatan besi berukuran lebar 5 meter dan panjang 6 meter yang menghubungkan sejumlah dusun di Desa Tanjung Kerang resmi diserahterimakan, Selasa (11/8). Prosesi serah terima berlangsung di Dusun 7 dan dihadiri Camat Babat Supat Musmulyadi SE MM, Kepala Desa Tanjung Kerang Eka Saprullah Zainudin, serta perwakilan Humas PT Medco E&P.
Menghubungkan Tiga Dusun dan Dua Desa
Keberadaan jembatan ini bukan sekadar infrastruktur pelengkap. Camat Babat Supat, Musmulyadi SE MM, menegaskan bahwa jembatan tersebut menjadi akses vital yang mempersingkat jarak tempuh warga.
“Jembatan ini sangat penting karena menjadi akses penghubung Dusun 5, Dusun 7, dan Dusun 10 di Desa Tanjung Kerang. Selain itu juga menjadi jalur penghubung antara Desa Tanjung Kerang dan Desa Langkap,” ujarnya.
Dengan terhubungnya tiga dusun sekaligus, mobilitas warga untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan sosial dipastikan berjalan lebih lancar tanpa hambatan geografis.
Kolaborasi Pemerintah Desa dan PT Medco E&P
Pembangunan jembatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara Pemerintah Desa Tanjung Kerang dengan PT Medco E&P. Perusahaan migas tersebut menyalurkan bantuannya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat di wilayah operasionalnya.
“Kami berharap keberadaan jembatan ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan mendukung peningkatan konektivitas antarwilayah,” kata perwakilan Humas PT Medco E&P.
Kepala Desa Tanjung Kerang, Eka Saprullah Zainudin, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Pemerintah Kecamatan Babat Supat, serta PT Medco E&P atas dukungan penuh terhadap pembangunan infrastruktur di wilayahnya.
Dari Batang Kelapa ke Jembatan Besi yang Aman
Kegembiraan warga yang hadir dalam acara serah terima tidak bisa disembunyikan. Mereka mengaku selama bertahun-tahun hidup dalam kekhawatiran setiap kali harus menyeberang menggunakan jembatan darurat.
“Sebelumnya kami hanya lewat batang kelapa. Sangat berbahaya dan berisiko jatuh ke sungai. Alhamdulillah sekarang sudah ada jembatan besi yang aman. Ini seperti menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya,” ungkap salah seorang warga.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa besar perbedaan yang dirasakan masyarakat. Kini, aktivitas harian seperti pergi ke sawah, bersekolah, atau mengurus administrasi desa tidak lagi dihantui risiko kecelakaan di sungai.