MUARA ENIM — Empat desa di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dilanda kebakaran hutan dan lahan dalam dua hari berturut-turut pada 28-29 Mei 2026. BPBD setempat mencatat total area yang terbakar mencapai 3,5 hektare.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Muara Enim Alvi Gumara mengatakan, empat desa tersebut meliputi Desa Alai di Kecamatan Lembak serta Desa Mililian, Pedataran, dan Desa Tambangan Kelekar di Kecamatan Gelumbang.
Lahan Gambut dan Mineral Jadi Sasaran Api
"Rata-rata kawasan yang terbakar ini merupakan lahan gambut dan mineral yang belum diketahui pemiliknya," kata Alvi saat dihubungi dari Baturaja, Kamis.
Karhutla di lahan gambut lebih sulit dipadamkan karena api bisa membakar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini yang membuat petugas harus bekerja ekstra agar api tidak menyebar luas dan memicu kabut asap.
Petugas Gabungan Berjibaku Padamkan Api
Mendapat laporan dari masyarakat, BPBD Muara Enim bersama personel Manggala Agni langsung turun ke lokasi. Mereka menggunakan peralatan memadai seperti mesin jinjing dan empat rol selang untuk memadamkan api.
"Meskipun api sudah dipadamkan, upaya pemantauan dari udara terus dilakukan guna mengantisipasi kemunculan kembali titik api yang dapat memicu karhutla," ujar Alvi.
Imbauan Tegas: Jangan Buka Lahan dengan Cara Dibakar
Memasuki musim kemarau, BPBD Muara Enim kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan cara dibakar. Praktik ini menjadi penyebab utama karhutla di wilayah tersebut.
"Musim kemarau sangat rentan terjadi karhutla sehingga masyarakat kembali kami ingatkan untuk tidak membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan cara dibakar," tegas Alvi.
Sepanjang pekan ini, BPBD Muara Enim mencatat empat titik api yang berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian ekologis akibat terbakarnya lahan gambut dinilai cukup serius karena membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.