MUARA ENIM — Jalan-jalan di Desa Karang Raja berubah menjadi lautan manusia dan kendaraan pada Rabu malam (24/6/2026). Ribuan warga dari berbagai daerah, termasuk Palembang, sengaja datang untuk mengikuti tradisi Melemang, ritual membuat lemang secara massal yang digelar setiap menjelang 10 Muharram.
Kemacetan panjang terlihat di sejumlah titik akses desa. Bagi warga setempat, pemandangan ini bukan masalah, melainkan bukti bahwa tradisi leluhur masih hidup.
Lemang Ketan Hitam hingga Varian Durian Jadi Primadona
Proses pembuatan lemang dimulai sejak sore. Warga menyiapkan bambu, daun pisang, beras ketan putih dan hitam, serta santan. Setelah diaron dan dikukus setengah matang, adonan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang, lalu dibakar hingga matang sempurna.
Varian lemang yang tersedia cukup beragam, mulai dari lemang udang, pisang, hingga durian. "Yang paling utama tentu bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan," kata Gustandi Putra (42), warga Dusun I Desa Karang Raja.
Momen Mudik Lokal yang Lebih Ramai dari Lebaran
Gustandi mengungkapkan, tradisi Melemang telah menjadi momentum tahunan yang dinanti-nanti. "Jadi keluarga-keluarga jauh berkumpul di momen Melemang 10 Muharram ini. Kita juga mengundang kerabat dan rekan kerja untuk bersama-sama menikmati lemang," ujarnya.
Jaya (30), warga Palembang yang sengaja datang, mengaku tradisi ini sudah seperti Lebaran. "Momennya bahkan lebih ramai sampai membuat jalanan padat dan macet panjang karena antusiasme tradisi Melemang ini," ungkapnya.
Warisan Leluhur yang Dipertahankan Lewat Gotong Royong
Setiap keluarga di Karang Raja melaksanakan tradisi ini di rumah masing-masing atau bergabung bersama-sama. Nilai gotong royong dan kebersamaan menjadi inti dari ritual tahunan ini, bukan sekadar soal menyantap lemang.
Gustandi berharap generasi muda terus menjaga tradisi ini. "Utamanya agar tetap mengingat leluhur dan menjalin silaturahmi dengan keluarga-keluarga yang jauh," harapnya.
Jaya menambahkan, tradisi Melemang adalah identitas budaya yang harus diwariskan. "Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi Melemang tidak hanya menjadi perayaan menyambut 10 Muharram, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan," pungkasnya.