SUMATERA SELATAN — Sumur bernama LBK-031 itu dibor secara directional menggunakan Rig PDSI #43.3/AB-1500E sejak 9 Mei 2026. Hanya dalam waktu 52 hari, tepatnya pada 29 Juni 2026, tim pengeboran berhasil menyelesaikan uji produksi dan mendapatkan hasil yang melampaui ekspektasi awal.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengonfirmasi bahwa aliran minyak dan gas dari sumur ini mengalir secara alami (natural open flow) tanpa bantuan pompa dari lapisan TAF-H. Selain minyak, sumur ini juga menyemburkan gas bumi sebanyak 2,68 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Tekanan Reservoir Masih Kuat, Biaya Lebih Hemat
Menurut Djoko, hasil uji produksi ini menunjukkan bahwa tekanan reservoir di lapisan tersebut masih sangat baik. Hal ini menjadi indikator bahwa potensi cadangan di Struktur Lembak masih menjanjikan untuk pengembangan lebih lanjut.
Dari sisi efisiensi, realisasi biaya pengeboran sumur ini tercatat hanya mencapai 89,81 persen dari anggaran yang telah disetujui. "Pelaksanaan operasi di Sumur LBK-031 tercatat tanpa kecelakaan karena tetap mengutamakan komitmen terhadap aspek HSSE dan Operational Excellence," ujar Djoko dalam keterangan resminya.
Lokasi pengeboran berada di timur laut Kota Prabumulih, masuk dalam wilayah kerja Field Prabumulih yang dikelola oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Kedalaman akhir sumur mencapai 2.250 meter measured depth (mMD) atau setara 2.060,26 meter true vertical depth (mTVD).
Kontribusi untuk Produksi Migas Nasional
Keberhasilan sumur LBK-031 diharapkan dapat memperkuat pasokan minyak mentah dari wilayah Sumatera Selatan. Saat ini, PHR Zona 4 terus mengoptimalkan aset-aset produksi di wilayah tersebut untuk menjaga agar target produksi yang ditetapkan pemerintah dapat tercapai.
Dengan tambahan produksi sebesar 2.068 barel per hari, sumur ini menjadi salah satu sumur pengembangan dengan kontribusi signifikan di tengah upaya nasional menekan laju impor minyak. Pengeboran sumur pengembangan seperti LBK-031 menjadi strategi utama Pertamina untuk mempertahankan level produksi dari blok-blok yang sudah berproduksi puluhan tahun.