PALEMBANG — Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumsel, Ferdian Krisnanto, menyebut data hotspot bisa diakses publik secara terbuka melalui situs resmi Sipongi. Data itu dilengkapi rekapitulasi per satelit sehingga perkembangan titik panas di setiap wilayah dapat dibandingkan langsung.
"Untuk jumlah hotspot bisa kawan-kawan akses secara langsung dan terbuka dari website Sipongi. Ada rekap dan per satelit supaya bisa membandingkan langsung," ujarnya.
Pemadaman Masih Berlangsung di Ogan Ilir
Dalam sepekan terakhir, petugas masih melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ogan Ilir. Kondisi itu menunjukkan potensi karhutla tetap perlu diwaspadai meski sejumlah wilayah Sumsel mulai diguyur hujan beberapa hari terakhir.
Patroli udara Satgas Udara pada Senin juga menemukan sejumlah titik api di Cengal dan Pedamaran, Kabupaten OKI. Petugas masih mengecek kondisi titik api tersebut, termasuk memastikan apakah sudah terdampak hujan atau masih berpotensi menimbulkan kebakaran.
"Untuk OKI hari ini tadi ada beberapa firespot ditemukan dari patroli udara satgas udara di Cengal dan Pedamaran, nah saat ini sedang cek apakah kena hujan apa tidak," kata Ferdian.
Lahan Gambut Jadi Titik Rawan
Curah hujan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan karhutla. Ferdian menjelaskan, turunnya hujan belum tentu langsung menghilangkan seluruh titik api, sehingga pemantauan lapangan tetap diperlukan terutama pada kawasan berlahan gambut.
Patroli dan pemantauan dioptimalkan untuk memastikan titik panas yang terdeteksi bisa segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran lebih luas.
Angin Timur-Tenggara Bawa Asap ke Palembang
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, mengatakan pertumbuhan awan hujan di Sumsel mengalami fluktuasi dan cenderung menurun. Kondisi itu membuat risiko karhutla perlu diwaspadai.
"Ya, mengingat potensi pertumbuhan awan hujan yang seperti yang kami sampaikan tadi masih ada fluktuasi penurunan tentunya peluang terhadap kebakaran hutan dan lahan," ucapnya.
Siswanto menyebut potensi pertumbuhan awan hujan di Sumsel diperkirakan kembali berkurang pada 8-10 November mendatang. Berkurangnya peluang hujan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
"Namun di tanggal 8, 9, dan 10 November Sumsel kembali potensi awan hujan itu berkurang, nah justru disini yang perlu diwaspadai. Baik satgas darat, satgas udara, termasuk beberapa kegiatan patroli udara itu harus tetap ditingkatkan kewaspadaannya," ungkapnya.
Potensi Kabut Asap ke Palembang Masih Tinggi
Arah angin yang dominan bertiup dari timur dan tenggara saat ini mengarah langsung ke Kota Palembang. Kondisi itu berpotensi membawa kabut asap dari daerah yang mengalami karhutla.
"Kemudian dampak kabut asapnya yang terdorong oleh angin yang mana saat ini juga dominan masih berasal dari Timur dan Tenggara dan itu mengarah ke Kota Palembang," katanya.
Siswanto menegaskan potensi kabut asap kembali masuk ke Palembang masih sangat tinggi seiring kondisi arah angin tersebut. "Pastinya kemungkinan atau potensinya itu masih sangat tinggi, kabut asap itu mengarah ke Kota Palembang," tutupnya.