SUMATERA SELATAN — Irjen Pol (Purn) Heribertus Dahana Resmiwara menegaskan integritas dan kejujuran lebih menentukan kehormatan seorang pemimpin dibanding jabatan dan kekuasaan. Mantan Deputi Politik dan Strategi Wantannas RI itu menyampaikan refleksi kepemimpinan pada Sabtu (31/10/2026), menekankan strategi tanpa integritas akan kehilangan makna.
Pernyataan itu disampaikan Herry Dahana di Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Ia menilai banyak pemimpin hari ini terlalu cepat mengukur keberhasilan dari posisi yang diraih, padahal kepercayaan publik justru lahir dari konsistensi perilaku sehari-hari. Bagi Herry, jabatan hanya alat, bukan tujuan akhir.
Strategi Tanpa Integritas Kehilangan Makna
Herry menempatkan strategi dan integritas sebagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Strategi menentukan arah langkah, sementara integritas menentukan apakah langkah itu pantas dipertanggungjawabkan.
"Dalam setiap perjuangan, strategi menentukan langkah. Namun, integritas menentukan kehormatan," ujarnya.
Pandangan itu berangkat dari pengalamannya selama bertugas di lingkungan kepolisian dan lembaga ketahanan nasional. Ia melihat pemimpin yang hanya mengandalkan kemampuan menyusun strategi kerap kehilangan legitimasi ketika dihadapkan pada benturan kepentingan.
Kejujuran sebagai Fondasi Kepercayaan Publik
Menurut Herry, kejujuran bukan nilai moral yang cukup diucapkan dalam pidato. Kejujuran harus tercermin konsisten dalam perkataan, sikap, keputusan, dan tindakan seorang pemimpin.
Dari kejujuran itulah kepercayaan publik tumbuh. Dukungan masyarakat, kata dia, tidak bisa dituntut apalagi dipaksakan, melainkan harus diperjuangkan lewat keterbukaan dan bukti nyata dalam menjalankan tanggung jawab.
Ia menilai seorang pemimpin tidak cukup bermodal jabatan, kewenangan, dan kemampuan strategi. Publik juga perlu diyakinkan bahwa setiap keputusan diambil berlandaskan tanggung jawab dan kepentingan bersama.
Ujian Integritas Muncul Saat Tekanan Datang
Herry mengingatkan, ujian integritas justru paling berat ketika seorang pemimpin menghadapi tekanan, benturan kepentingan, dan godaan kekuasaan. Di titik itu, karakter dan prinsip moral menjadi penentu apakah seseorang mampu menjaga kehormatannya.
"Kemenangan terbesar seorang pemimpin bukanlah ketika ia berhasil mengalahkan lawan atau menguasai keadaan, melainkan ketika ia tetap mampu menjaga kehormatan dan integritas dirinya," tegasnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan sejati bukan sekadar soal posisi, pengaruh, dan kekuasaan. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan cerminan karakter, tanggung jawab, serta keteladanan yang ditunjukkan kepada masyarakat.
Refleksi Herry menutup dengan catatan sederhana. Jabatan bisa berakhir, kekuasaan dapat berganti, dan dukungan publik bisa berubah. Yang tersisa adalah kejujuran, integritas, dan kehormatan, warisan yang menentukan bagaimana seorang pemimpin dikenang.